Struktur Produksi (Kemiskinan)

ARTIKEL KEMISKINAN
³Kemiskinan adalah salah satu masalah mendasar yang menjadi pusat perhatian pemerintah
negara manapun, karena salah satu tugas pemerintah adalah menyejahterakan masyarakat,´
ujar Kepala BPS Rusman Heriawan dalam penjelasan hasil Sensus Nasional yang dirilis baru-
baru ini, berbarengan dengan ulang tahun RI ke-65.
Rusman mengakui jumlah penduduk miskin di Indonesia pada Maret 2010 memang telah
berkurang 1,51 juta orang menjadi 31,02 juta orang (13,33 persen) dibandingkan dengan
Maret 2009 sebanyak 32,53 juta orang. Namun, angka kemiskinan itu terbilang tinggi.
Yang dimaksud dengan penduduk miskin adalah mereka yang memiliki rata-rata pengeluaran
per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan. Angka garis kemiskinan pada Maret 2010
adalah Rp211.726,- per kapita per bulan.
Ketersediaan data kemiskinan yang akurat dan tepat sasaran, menurut Rusman, sangat
penting digunakan untuk mengevaluasi kebijakan strategis pemerintah terhadap kemiskinan.
Ini juga penting untuk membandingkan kemiskinan antarwaktu dan daerah, serta menentukan
target penduduk miskin dengan tujuan untuk memperbaiki kondisi mereka.
Jika membandingkan antar daerah, BPS mencatat sejumlah wilayah masih menghadapi
persoalan kemiskinan yang tinggi. Bahkan, angka kemiskinan yang tertinggi itu justru terjadi
di wilayah dengan kekayaan sumber alam melimpah, seperti Papua dan Papua Barat.
Prosentase angka kemiskinannya mencapai 34-36 persen, jauh lebih besar dibandingkan rata-
rata nasional sebesar 13,33 persen.
Selain Papua, propinsi lain yang memiliki prosentase penduduk miskin tinggi adalah Maluku,
Nusa Tenggara, Aceh, Bangka Belitung dan lainnya. Jumlah penduduk di propinsi-propinsi
tersebut yang memang tidak sebanyak di Jawa, tetapi secara prosentase dibandingkan total
penduduk di wilayah tersebut, kelompok orang miskinnya sangat tinggi.
10 Propinsi dengan Angka Kemiskinan
Tertinggi (%)
No Propinsi
Angka Kemiskinan
1 Papua Barat 36,80
2 Papua 34,88
3 Maluku 27,74
4 Sulawesi Barat 23,19
5 Nusa Tenggara Timur 23,03
6 Nusa Tenggara Barat 21,55
7 Aceh 20,98
8 Bangka Belitung 18,94
9 Gorontalo 18,70
10 Sumatera Selatan 18,30
Sumber: Sensus Nasional BPS 2010
Agar pengukurannya terpercaya, menurut Rusman, BPS menggunakan konsep kemampuan
memenuhi kebutuhan dasar. Konsep ini tidak hanya digunakan oleh BPS tetapi juga oleh
negara-negara lain seperti Armenia, Senegal, Pakistan, Bangladesh, Vietnam, Sierra Leone,
dan Gambia. Dengan pendekatan ini, kemiskinan dipandang sebagai ketidakmampuan dari
sisi ekonomi untuk memenuhi kebutuhan dasar makanan dan bukan makanan yang diukur
dari sisi pengeluaran.
Menurut pendekatan ini, penduduk miskin adalah penduduk yang memiliki rata-rata
pengeluaran per kapita per bulan di bawah garis kemiskinan (GK). Secara teknis GK
dibangun dari dua komponen yaitu Garis Kemiskinan Makanan (GKM) dan Garis
Kemiskinan Non-Makanan (GKNM).
GKM merupakan nilai pengeluaran kebutuhan minimum makanan yang disetarakan dengan
2.100 kilo kalori per kapita per hari; sedangkan GKNM merupakan kebutuhan minimum
untuk perumahan, sandang, pendidikan dan kesehatan.
³Pengukuran kemiskinan yang terpercaya dapat menjadi instrumen bagi pengambil kebijakan
dalam memfokuskan perhatian pada perbaikan kondisi hidup orang miskin,´ kata Rusman.
Pengurangan kemiskinan sepanjang periode Maret 2009-Maret 2010 menjadi salah satu
acuan bagaimana strategi yang bisa diterapkan. Pada periode itu angka kemiskinan berkurang
1,51 juta orang, menurut catatan BPS, terjadi karena sejumlah hal.
Pertama, inflasi umum relatif rendah, yaitu sebesar 3,43 persen. Kedua, rata-rata upah harian
buruh tani dan buruh bangunan masing-masing naik sebesar 3,27 persen dan 3,86 persen
selama periode Maret 2009-Maret 2010.
Ketiga, produksi padi tahun 2010 (hasil Angka Ramalan II) mencapai 65,15 juta ton gabah
kering giling (GKG), naik sekitar 1,17 persen dari produksi padi tahun 2009 yang sebesar
64,40 juta ton GKG.
Keempat, sebagian besar penduduk miskin (64,65 persen pada 2009) bekerja di sektor
pertanian. Nilai Tukar Petani naik 2,45 persen dari 98,78 pada Maret 2009 menjadi 101,20
pada Maret 2010.
Kelima, perekonomian Indonesia pada triwulan I 2010 tumbuh sebesar 5,7 persen terhadap
Triwulan I 2009, sedangkan pengeluaran konsumsi rumah tangga meningkat sebesar 3,9
persen pada periode yang sama. [*]CPS/GO

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: