GREEN ECONOMY (BI-01-SS-12)

Ekonomi hijau biasanya secara luas diartikan sebagai ekonomi yang dapat menghasilkan kesejahteraan dan keadilan sosial umat manusia yang lebih baik, sementara secara signifikan mengurangi resiko lingkungan dan kerusakan ekologis atau dalam ungkapan sederhananya, suatu green economy/ekonomi hijau dapat dianggap sebagai salah satu yang rendah karbon, efisiensi sumberdaya dan inklusif secara sosial. Namun dalam konteks negara Indonesia, penekanan yang berbeda dari elemennya dapat mewakili sifat unik dari perekonomian Indonesian. Meskipun ekonomi hijau menawarkan strategi pengembangan yang tidak harus menimbulkan konflik antara tujuan-tujuan pengembangan atau tujuan social dan lingkungan, dalam konteks negara Indonesia, tambahan elemen social dapat menjadi salah satu dari tiga elemen yang perlu diprioritaskan.

Bermacam-macam indicator menunjukkan bahwa pengembangan ekonomi di Indonesia  belum diikuti oleh beberapa prinsip yang penting dari ekonomi hijau. Peningkatan pendapatan per kapita yang cepat digerakkan oleh besarnya likuidasi sumberdaya alam dan asset-aset lingkungannya. Eksploitasi sumberdaya alam yang berlebihan dan pengrusakan asset alam terus terjadi meskipun faktanya hal tersebut mengakibatkan kerusakan yang maha dahsyat bagi generasi sekarang dalam bentuk bencana alam yang terkait lingkungan.

Baru-baru ini Indonesia tengah melakukan langkah yang konkrit dan penting menuju penerapan ekonomi hijau. Inti dari prinsip ekonomi hijau telah harus utamakan menjadi rencana pengembangan nasional jangka panjang. Sebagai wujud dari upaya itu, Indonesia telah berinisiatif untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim, pengelolaan hutan, laut, dan pesisir secara lestari dengan cara melanjutkan pengembangan energi bersih dan energi terbarukan yang ramah lingkungan. semua itu menjadi sangat penting untuk dilakukan secara berkelanjutan karena beberapa alasan mendasar. Salah satunya adalah kondisi Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia memiliki 17.508 pulau dan garis pantai sepanjang 104.000 km. Saat ini fenomena perubahan iklim sudah menjadi ancamanan serius bagi ketahanan pangan dan keselamatan banyak warga dunia. Saat ini konsentrasi gas karbondioksida di atmosfer telah mencapai 400 ppm (parts per million) di Kutub Utara. Peningkatan konsentrasi tersebut akan meningkatkan suhu rata-rata permukaan bumi sebesar 3 derajat Celsius. Padahal, kenaikan suhu permukaan bumi sebesar 1,9 derajat Celsius telah menyebabkan berbagai bencana iklim, termasuk naiknya permukaan air laut yang telah menenggelamkan 24 pulau kecil selama periode 2005-2007.  Dengan berbagai kejadian tersebut di atas, terbukti model pembangunan yang selama ini kita anut perlu diperbaiki agar lebih kuat, lebih mampu bertahan terhadap gejolak pasar dunia, tetapi tetap bersahabat dengan lingkungan,” Presiden menegaskan.

 

Sumber:

http://www.presidensby.info/index.php/fokus/2012/06/05/7982.html

http://www.esp2indonesia.org/sites/default/files/publications/EquatorReportG_PaperGreenEconomy_Bahasa_0.pdf

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: